“Imam Syafii yang wafat pada usia 54 tahun punya karya kitab 147 buah“
Imam Syafi’i wafat pada usia sekitar 54 tahun. Namun, namanya tetap hidup melampaui batas usia biologisnya. Pemikiran fikihnya dipelajari lintas generasi, kitab-kitabnya dikaji di pesantren, masjid, dan perguruan tinggi Islam, sementara pendapat-pendapatnya terus menjadi bahan diskusi para ulama hingga hari ini.
Coba kita berhenti sejenak, lalu bercermin. Kita yang hidup pada zaman kiwari, ketika usia sudah menginjak 60 tahun, 70 tahun, bahkan lebih, sudah meninggalkan karya apa untuk generasi berikutnya? Berapa banyak tulisan yang kita hasilkan? Berapa banyak ilmu yang kita bagikan? Berapa banyak pemikiran yang bisa dibaca anak cucu kita setelah kita berpulang ke rahmatullah Jangan buru-buru tersinggung. Ini bukan lomba siapa paling banyak menulis buku. Bukan pula ukuran kesalehan seseorang ditentukan oleh tebal-tipisnya karya. Banyak orang saleh yang tidak pernah menulis buku, tetapi hidupnya menjadi teladan. Banyak pula orang yang tidak pandai merangkai kata, tetapi tangannya ringan membantu sesama. Semua itu bernilai jika dilakukan dengan ikhlas dan membawa manfaat.
Namun, ada ironi yang layak kita renungkan. Sebagian dari kita begitu bersemangat membicarakan agama, tetapi malas membaca ilmu agama. Membaca artikel beberapa paragraf saja sudah menguap berkali-kali. Mata mulai berat, kepala mengangguk, lalu terdengar suara dalam hati: “Ah, nanti saja dilanjutkan.” Nanti berubah menjadi besok. Besok berubah menjadi minggu depan. Minggu depan berubah menjadi entah kapan. Akhirnya, artikel tak selesai dibaca, buku tak kunjung dibuka, ilmu tak bertambah, sementara usia terus berjalan tanpa menunggu kesiapan kita.
Dalam bahasa Sunda, barangkali begini sindirannya: “Umur geus genep puluh taun, maca artikel sababaraha paragraf gé geus angob, tuluy turu deui, turu deui. Ari nyieun buku mah boro-boro acan!” Umur bertambah, tetapi semangat belajar malah tertidur. Kalau bukan kita yang menertawakan diri sendiri, siapa lagi?. Padahal, ilmu tidak harus dimulai dengan menulis kitab berjilid-jilid. Kita bisa memulainya dari hal sederhana: membaca satu halaman setiap hari, mencatat satu pemikiran, menulis pengalaman hidup, merangkum pelajaran dari sebuah buku, atau membagikan pengetahuan yang sudah kita pahami dengan bahasa yang mudah dimengerti.
Seorang guru bisa mewariskan catatan pelajaran. Seorang pedagang bisa menulis pengalaman tentang kejujuran dalam berniaga. Seorang petani bisa membagikan pengetahuan tentang tanah dan tanaman. Seorang ayah atau ibu bisa menuliskan nasihat kehidupan untuk anak cucunya. Bahkan, tulisan pendek yang jujur dan bermanfaat bisa menjadi pintu pengetahuan bagi orang lain. Kita tidak harus menjadi Imam Syafi’i untuk meninggalkan manfaat. Kita hanya perlu berhenti menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk tidak berbuat apa-apa.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda bahwa ketika manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, hadis nomor 1631. Perhatikan baik-baik: ilmu yang bermanfaat. Bukan sekadar ilmu yang dikumpulkan untuk memenangkan perdebatan. Bukan pula pengetahuan yang dipamerkan agar dianggap paling pintar. Ilmu itu harus memberi manfaat, mencerahkan pikiran, memperbaiki perilaku, dan membantu manusia menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Maka, menulis bisa menjadi salah satu jalan untuk mewariskan ilmu. Tetapi jangan pula merasa bahwa setiap tulisan otomatis menjadi amal jariah. Kualitas, kebenaran, manfaat, dan keikhlasan tetap penting. Tulisan yang keliru bisa menyesatkan, sedangkan tulisan yang benar dan bermanfaat dapat membantu banyak orang, bahkan ketika penulisnya telah tiada. Imam Syafi’i meninggalkan warisan keilmuan yang luar biasa. Kita mungkin tidak sanggup menyamai keluasan ilmunya, apalagi produktivitas para ulama besar. Namun, kita masih bisa meneladani semangat mereka dalam belajar, berpikir, mengajar, dan berbagi.
Jangan sampai kita sibuk menghitung usia, tetapi lupa mengisi usia. Jangan sampai kita bangga memiliki banyak pengikut di media sosial, tetapi tidak pernah bertanya apakah ada pengetahuan bermanfaat yang kita tinggalkan. Jangan sampai kita rajin mengomentari tulisan orang lain, tetapi tidak pernah berusaha menghasilkan satu tulisan yang berguna bagi sesama. Sebab, pada akhirnya, hidup bukan semata-mata soal berapa lama kita bernapas, melainkan juga apa yang kita lakukan selama masih diberi kesempatan.
Jadi, bagi yang sudah berusia 60 tahun ke atas, jangan buru-buru merasa terlambat. Selama pikiran masih bisa bekerja dan tangan masih bisa bergerak, mulailah menulis. Tidak harus langsung menjadi buku. Satu halaman pun cukup untuk memulai. Dan bagi yang masih muda, jangan menunggu tua untuk berbagi ilmu. Mulailah sekarang, selagi waktu masih panjang dan kesempatan masih terbuka.
Umur boleh bertambah, rambut boleh memutih, tenaga boleh berkurang. Tetapi semangat belajar dan berbagi ilmu jangan ikut menua. Sebab, kita tidak pernah tahu tulisan sederhana mana yang kelak menjadi penerang bagi seseorang, bahkan setelah kita sendiri tak lagi ada di dunia.**
Referensi
- Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim, hadis no. 1631, tentang tiga amal yang tetap mengalir setelah kematian.
- Al-Bayhaqi. Manaqib al-Syafi’i, biografi dan perjalanan keilmuan Imam Syafi’i.
- Al-Syafi’i. Al-Risalah, salah satu karya penting dalam perkembangan ilmu usul fikih.
Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten
