Ada satu gambaran Al-Qur’an yang sangat menggugah tentang pertanggungjawaban manusia di akhirat : anggota tubuh yang selama ini kita gunakan ternyata dapat menjadi saksi atas perbuatan kita sendiri.
Allah berfirman dalam QS. Fussilat [41]: 20–22, bahwa ketika orang-orang yang berdosa digiring menuju neraka, pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka memberikan kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.
Manusia kemudian memprotes kulitnya: “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?”. Kulit menjawab bahwa Allah-lah yang menjadikan segala sesuatu dapat berbicara.
Pesannya sangat dalam. Di dunia, manusia mungkin dapat menyembunyikan perbuatannya dari sesama manusia. Namun di hadapan Allah, tidak ada yang benar-benar tersembunyi.
Kita dapat memoles citra, menyusun alasan, bahkan menyangkal apa yang pernah dilakukan. Tetapi kelak, tubuh yang sama yang digunakan untuk melihat, mendengar, berbicara, berjalan, dan melakukan berbagai perbuatan akan menjadi bagian dari kesaksian.
Al-Qur’an juga menegaskan hal serupa dalam QS. Yasin [36]: 65: mulut dikunci, sementara tangan berbicara dan kaki memberikan kesaksian. QS. An-Nur [24] : 24 juga menggambarkan lidah, tangan, dan kaki yang menjadi saksi atas amal manusia.
Ini mengajarkan satu prinsip penting : jangan hanya menjaga apa yang diketahui manusia; jagalah apa yang diketahui Allah.
Sebab ukuran keselamatan bukanlah seberapa rapi kita menyembunyikan kesalahan, melainkan seberapa sungguh kita memperbaiki diri sebelum tiba saat seluruh anggota tubuh berbicara.
Hari ini kita masih memiliki kesempatan untuk berbicara kepada diri sendiri, mengakui kesalahan, bertobat, dan memperbaiki amal. Jangan menunggu sampai kelak tubuh kita sendiri yang berbicara tentang siapa diri kita sebenarnya. ***
Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

