Manusia memang makhluk yang unik. Bahkan kadang-kadang lucu kalau kita mau jujur kepada diri sendiri. Ketika dokter berkata, “Obat ini harus diminum setiap hari, pagi dan malam, seumur hidup,” kita biasanya langsung patuh. Alarm dipasang. Obat disimpan di tempat khusus. Kalau lupa minum, panik. Bahkan ketika bepergian, obat ikut masuk koper lebih dulu daripada pakaian.
Padahal, obat itu urusan dunia. Dan dokter sendiri tidak pernah menjanjikan bahwa kita pasti sembuh seratus persen. Obat hanya ikhtiar. Ada yang cocok, ada yang tidak. Ada yang membantu, ada pula yang ternyata menimbulkan efek samping. Menariknya, ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam memerintahkan kita untuk berdoa, berdzikir, dan mengingat Allah secara rutin, sebagian dari kita justru berkata dalam hati, “Nanti saja.” “Nanti setelah selesai kerja.” “Nanti kalau sudah tenang.” “Nanti kalau ada waktu.” Masalahnya, “nanti” itu kadang lebih rajin datang daripada kita.
Obat Diminum, Doa Ditunda
Kita rela mengeluarkan uang untuk membeli obat, bahkan setiap bulan. Kita rela mengantre di apotek. Kita membaca aturan pakai dengan serius: dua kali sehari, sesudah makan, jangan terlambat. Tetapi untuk berdoa lima menit saja, rasanya berat sekali. Dokter bilang, “Jangan lupa minum obat.” Kita jawab, “Siap, Dok!” Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu.” (QS. Ghafir: 60). Kita malah menjawab dengan bahasa tubuh: menguap, menunda, lalu lupa.
Ini bukan berarti obat tidak penting. Justru obat adalah bagian dari ikhtiar manusia. Islam tidak mengajarkan kita meninggalkan usaha duniawi. Berobat adalah ikhtiar, berdoa adalah ikhtiar ruhani. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Yang agak aneh adalah ketika manusia begitu yakin kepada resep dokter, tetapi kurang yakin kepada doa yang diajarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam.
Kita Takut Sakit, tetapi Kurang Takut Jauh dari Allah
Ketika tekanan darah naik, kita segera mencari tensimeter. Ketika gula darah naik, kita mulai mengatur makanan. Ketika kolesterol tinggi, gorengan mendadak menjadi musuh negara. Tetapi ketika hati mulai keras, iri mulai tumbuh, kesombongan mulai naik, dan hubungan dengan Allah mulai renggang, kita sering tidak merasa perlu “berobat”. Padahal penyakit hati juga membutuhkan terapi.
Sayangnya, penyakit hati tidak selalu punya alat ukur yang bisa ditempelkan di lengan. Kalau tekanan darah 160/100, kita langsung gelisah. Kalau kesombongan 160 persen, kita malah merasa sedang percaya diri. Kalau kolesterol tinggi, kita takut makan santan. Kalau dengki tinggi, kita masih sempat mencari kesalahan tetangga. Di sinilah manusia kadang perlu bercermin. Jangan-jangan tubuh kita sedang dirawat dengan sangat baik, sementara jiwa kita dibiarkan berjalan tanpa pemeriksaan.
Doa Bukan Tombol Darurat
Sebagian orang baru rajin berdoa ketika hidup sedang terdesak. Ketika bisnis lancar, doa hanya formalitas. Ketika pekerjaan aman, dzikir terasa tidak mendesak. Ketika rekening sehat, sujud terasa bisa ditunda. Tetapi begitu sakit datang, usaha bangkrut, anak bermasalah, pekerjaan hilang, atau kehidupan terasa sempit, tiba-tiba kita menjadi sangat religius.
Tidak salah kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala ketika sedang susah. Justru itu lebih baik daripada tidak kembali sama sekali. Tetapi bukankah hubungan dengan Allah seharusnya bukan seperti hubungan dengan petugas pemadam kebakaran—baru dicari ketika rumah sudah terbakar? Doa semestinya bukan sekadar tombol darurat. Doa adalah percakapan seorang hamba dengan Rabb-nya. Ia bukan hanya cara meminta sesuatu, tetapi juga cara mengakui bahwa kita memiliki keterbatasan.
Kita boleh punya uang, jabatan, pendidikan, koneksi, teknologi, bahkan kecerdasan buatan. Tetapi tetap saja kita manusia. Dan manusia, betapapun hebatnya, tetap makhluk yang bisa salah memasukkan password, salah mengambil keputusan, salah memilih pasangan, salah membaca situasi, bahkan salah mengira dirinya selalu benar.
Yang Kita Perlukan Bukan Hanya Panjang Umur, tetapi Umur yang Bernilai dan Berkah
Obat mungkin membantu memperpanjang atau menjaga kualitas kehidupan jasmani. Itu penting. Tetapi doa mengingatkan kita bahwa hidup bukan hanya soal berapa lama kita hidup, melainkan untuk apa kita hidup.
Ada orang yang panjang umur tetapi pendek manfaatnya. Ada yang hartanya banyak tetapi ketenangannya sedikit. Ada yang jabatannya tinggi tetapi akhlaknya rendah. Ada pula yang hidupnya sederhana, tetapi kehadirannya menenangkan banyak orang. Doa membuat manusia kembali kepada perspektif yang benar: bahwa dunia bukan tujuan akhir.
Kita bekerja untuk dunia, tetapi tidak boleh diperbudak dunia. Kita berobat untuk menjaga tubuh, tetapi jangan sampai lupa merawat jiwa. Kita mencari rezeki, tetapi jangan sampai lupa kepada Sang Pemberi Rezeki. Kita mengejar masa depan, tetapi jangan sampai lupa bahwa masa depan yang paling pasti adalah kematian.
Satire Kecil untuk Diri Sendiri
Mungkin kita perlu membuat “resep” sederhana. Pagi: bersyukur. Siang: bekerja dengan jujur. Sore: introspeksi. Malam: berdoa dan memohon ampun. Dosis: rutin. Efek samping: hati lebih tenang, ego sedikit berkurang, dan kesadaran bahwa kita bukan pusat alam semesta.
Overdosis? Tidak perlu takut. Justru yang berbahaya adalah kekurangan dosis. Sebab manusia yang terlalu lama jauh dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala bisa mengalami penyakit yang lebih sulit dideteksi: merasa tidak membutuhkan-Nya.
Padahal setiap tarikan napas adalah bukti bahwa kita sebenarnya sedang hidup dari karunia yang tidak pernah kita beli. Kita tidak pernah membayar oksigen secara langsung. Tidak pernah membayar detak jantung. Tidak pernah mengatur sendiri kapan mata harus berkedip. Tidak pernah membuat sendiri sistem imun. Namun kita sering hidup seolah-olah semua itu hasil kerja pribadi.
Mungkin karena manusia memang mudah lupa: ketika semuanya berjalan baik, kita merasa hebat. Ketika semuanya berantakan, baru sadar bahwa kita ternyata tidak sehebat yang kita kira.
Berdoa Bukan Berarti Berhenti Berusaha
Tentu saja jangan salah memahami. Berdoa bukan pengganti bekerja. Berdoa bukan alasan untuk tidak berobat. Berdoa bukan cara untuk menghindari tanggung jawab. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mengajarkan umatnya untuk berikhtiar. Islam tidak mengajarkan kemalasan yang dibungkus tawakal.
Kita tetap harus pergi ke dokter ketika sakit. Tetap harus bekerja ketika membutuhkan nafkah. Tetap harus belajar ketika ingin pintar. Tetap harus memperbaiki diri ketika melakukan kesalahan. Tetapi di atas semua itu, kita sadar bahwa hasil akhirnya berada di luar kendali manusia.
Di situlah doa menjadi penting. Kita berusaha dengan tangan, tetapi berharap dengan hati. Kita merencanakan dengan akal, tetapi menyerahkan hasil kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Mungkin Masalahnya Bukan Tidak Punya Waktu
Sering kali kita berkata, “Saya tidak punya waktu untuk berdoa.” Benarkah? Kita punya waktu untuk membuka media sosial. Punya waktu membaca komentar orang yang bahkan tidak kita kenal. Punya waktu menonton video pendek yang awalnya berniat satu menit, tetapi tiba-tiba satu jam berlalu.
Punya waktu memikirkan apa kata orang. Punya waktu mengkhawatirkan masa depan yang belum tentu terjadi. Tetapi lima menit untuk berbicara kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala terasa berat. Mungkin persoalannya bukan waktu. Mungkin persoalannya adalah prioritas. Dan prioritas sering menunjukkan apa yang sebenarnya kita anggap penting.
Pada Akhirnya, Kita Semua Membutuhkan “Resep” Itu
Dokter memberikan resep untuk tubuh. Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan petunjuk untuk kehidupan. Dokter mengingatkan kita agar menjaga jasmani. Al-Qur’an dan sunnah mengajarkan kita menjaga jasmani sekaligus ruhani. Obat bisa menjadi sebab kesembuhan tubuh. Doa menjadi bentuk penghambaan, pengharapan, dan ketergantungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Karena itu, tidak ada alasan untuk memilih salah satunya. Minumlah obat ketika dokter meresepkannya. Dan jangan lupa “meminum” resep kehidupan yang diajarkan agama: shalat, doa, dzikir, membaca Al-Qur’an, berbuat baik, bersedekah, meminta ampun, serta memperbaiki hubungan dengan sesama.
Sebab boleh jadi kita sangat disiplin merawat tubuh agar tetap hidup lebih lama, tetapi lupa mempersiapkan jiwa untuk kehidupan yang lebih lama lagi. Manusia memang aneh. Untuk urusan dunia, kita mau disiplin luar biasa. Untuk urusan akhirat, kita sering meminta kelonggaran. Padahal dunia hanya sementara, sedangkan akhirat adalah tujuan terakhir.
Maka, kalau setiap hari kita tidak pernah lupa minum obat, jangan sampai kita lupa berdoa. Kalau kita takut satu dosis obat terlewat, semestinya kita juga takut satu hari berlalu tanpa mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebab obat mungkin membantu kita menjaga umur. Tetapi doa membantu kita mengingat untuk apa umur itu diberikan. Dan mungkin, itulah resep yang paling sering kita miliki, tetapi paling sering kita lupa minum.***
Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

