Skip to content
August 21, 2026
Trending Tags
hikmah jumat Alihsan Anyer RuliAlqodriMustafa dakwah Suryana Sudrajat puasa fariduddin attar takwa
AL-IHSAN ANYER

AL-IHSAN ANYER

Media Dakwah, Pendidikan & Pengetahuan Keislaman

  • PENDIDIKAN
  • SIRAH
  • KAJIAN ISLAM
  • ILMU DAN TEKNOLOGI
  • TENTANG KAMI
  • PONPES AL-IHSAN

Breaking News

Manusia Memang Aneh : Patuh Minum Obat, Malas Berdo’a

Telinga : Keajaiban Kecil yang Mengajarkan Kita untuk Mendengar

Teriaklah, Sebab Diam Tidak Pernah Mengubah Apa-apa

Mujahirin: Ketika Dosa Bukan Lagi Disembunyikan, Tapi Dijadikan Konten

Menjaga Kehormatan di Tengah Kekurangan

Hijrah Itu Esensi, Bukan Sensasi

Fitnah Akhir Zaman : Ujian Iman di Tengah Kaburnya Kebenaran

Salah, Dosa, dan Jalan Pulang kepada Allah

Rokok, Kesadaran Jiwa, dan Cinta kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam

Inilah Siratal Mustakim yang Digambarkan  Rasulullah Saw

  • Home
  • 2026
  • August
  • 21
  • Manusia Memang Aneh : Patuh Minum Obat, Malas Berdo’a
  • HIKMAH JUMAT

Manusia Memang Aneh : Patuh Minum Obat, Malas Berdo’a

On August 21, 2026August 21, 2026
Ruli Alqodri Mustafa

Manusia memang makhluk yang unik. Bahkan kadang-kadang lucu kalau kita mau jujur kepada diri sendiri. Ketika dokter berkata, “Obat ini harus diminum setiap hari, pagi dan malam, seumur hidup,” kita biasanya langsung patuh. Alarm dipasang. Obat disimpan di tempat khusus. Kalau lupa minum, panik. Bahkan ketika bepergian, obat ikut masuk koper lebih dulu daripada pakaian.

Padahal, obat itu urusan dunia. Dan dokter sendiri tidak pernah menjanjikan bahwa kita pasti sembuh seratus persen. Obat hanya ikhtiar. Ada yang cocok, ada yang tidak. Ada yang membantu, ada pula yang ternyata menimbulkan efek samping. Menariknya, ketika Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam memerintahkan kita untuk berdoa, berdzikir, dan mengingat Allah secara rutin, sebagian dari kita justru berkata dalam hati, “Nanti saja.” “Nanti setelah selesai kerja.” “Nanti kalau sudah tenang.” “Nanti kalau ada waktu.” Masalahnya, “nanti” itu kadang lebih rajin datang daripada kita.

Obat Diminum, Doa Ditunda

Kita rela mengeluarkan uang untuk membeli obat, bahkan setiap bulan. Kita rela mengantre di apotek. Kita membaca aturan pakai dengan serius: dua kali sehari, sesudah makan, jangan terlambat. Tetapi untuk berdoa lima menit saja, rasanya berat sekali. Dokter bilang, “Jangan lupa minum obat.” Kita jawab, “Siap, Dok!” Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu.” (QS. Ghafir: 60). Kita malah menjawab dengan bahasa tubuh: menguap, menunda, lalu lupa.

Ini bukan berarti obat tidak penting. Justru obat adalah bagian dari ikhtiar manusia. Islam tidak mengajarkan kita meninggalkan usaha duniawi. Berobat adalah ikhtiar, berdoa adalah ikhtiar ruhani. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Yang agak aneh adalah ketika manusia begitu yakin kepada resep dokter, tetapi kurang yakin kepada doa yang diajarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam.

Kita Takut Sakit, tetapi Kurang Takut Jauh dari Allah

Ketika tekanan darah naik, kita segera mencari tensimeter. Ketika gula darah naik, kita mulai mengatur makanan. Ketika kolesterol tinggi, gorengan mendadak menjadi musuh negara. Tetapi ketika hati mulai keras, iri mulai tumbuh, kesombongan mulai naik, dan hubungan dengan Allah mulai renggang, kita sering tidak merasa perlu “berobat”. Padahal penyakit hati juga membutuhkan terapi.

Sayangnya, penyakit hati tidak selalu punya alat ukur yang bisa ditempelkan di lengan. Kalau tekanan darah 160/100, kita langsung gelisah. Kalau kesombongan 160 persen, kita malah merasa sedang percaya diri. Kalau kolesterol tinggi, kita takut makan santan. Kalau dengki tinggi, kita masih sempat mencari kesalahan tetangga. Di sinilah manusia kadang perlu bercermin. Jangan-jangan tubuh kita sedang dirawat dengan sangat baik, sementara jiwa kita dibiarkan berjalan tanpa pemeriksaan.

Doa Bukan Tombol Darurat

Sebagian orang baru rajin berdoa ketika hidup sedang terdesak. Ketika bisnis lancar, doa hanya formalitas. Ketika pekerjaan aman, dzikir terasa tidak mendesak. Ketika rekening sehat, sujud terasa bisa ditunda. Tetapi begitu sakit datang, usaha bangkrut, anak bermasalah, pekerjaan hilang, atau kehidupan terasa sempit, tiba-tiba kita menjadi sangat religius.

Tidak salah kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala ketika sedang susah. Justru itu lebih baik daripada tidak kembali sama sekali. Tetapi bukankah hubungan dengan Allah seharusnya bukan seperti hubungan dengan petugas pemadam kebakaran—baru dicari ketika rumah sudah terbakar? Doa semestinya bukan sekadar tombol darurat. Doa adalah percakapan seorang hamba dengan Rabb-nya. Ia bukan hanya cara meminta sesuatu, tetapi juga cara mengakui bahwa kita memiliki keterbatasan.

Kita boleh punya uang, jabatan, pendidikan, koneksi, teknologi, bahkan kecerdasan buatan. Tetapi tetap saja kita manusia. Dan manusia, betapapun hebatnya, tetap makhluk yang bisa salah memasukkan password, salah mengambil keputusan, salah memilih pasangan, salah membaca situasi, bahkan salah mengira dirinya selalu benar.

Yang Kita Perlukan Bukan Hanya Panjang Umur, tetapi Umur yang Bernilai dan Berkah

Obat mungkin membantu memperpanjang atau menjaga kualitas kehidupan jasmani. Itu penting. Tetapi doa mengingatkan kita bahwa hidup bukan hanya soal berapa lama kita hidup, melainkan untuk apa kita hidup.

Ada orang yang panjang umur tetapi pendek manfaatnya. Ada yang hartanya banyak tetapi ketenangannya sedikit. Ada yang jabatannya tinggi tetapi akhlaknya rendah. Ada pula yang hidupnya sederhana, tetapi kehadirannya menenangkan banyak orang. Doa membuat manusia kembali kepada perspektif yang benar: bahwa dunia bukan tujuan akhir.

Kita bekerja untuk dunia, tetapi tidak boleh diperbudak dunia. Kita berobat untuk menjaga tubuh, tetapi jangan sampai lupa merawat jiwa. Kita mencari rezeki, tetapi jangan sampai lupa kepada Sang Pemberi Rezeki. Kita mengejar masa depan, tetapi jangan sampai lupa bahwa masa depan yang paling pasti adalah kematian.

Satire Kecil untuk Diri Sendiri

Mungkin kita perlu membuat “resep” sederhana. Pagi: bersyukur. Siang: bekerja dengan jujur. Sore: introspeksi. Malam: berdoa dan memohon ampun. Dosis: rutin. Efek samping: hati lebih tenang, ego sedikit berkurang, dan kesadaran bahwa kita bukan pusat alam semesta.

Overdosis? Tidak perlu takut. Justru yang berbahaya adalah kekurangan dosis. Sebab manusia yang terlalu lama jauh dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala bisa mengalami penyakit yang lebih sulit dideteksi: merasa tidak membutuhkan-Nya.

Padahal setiap tarikan napas adalah bukti bahwa kita sebenarnya sedang hidup dari karunia yang tidak pernah kita beli. Kita tidak pernah membayar oksigen secara langsung. Tidak pernah membayar detak jantung. Tidak pernah mengatur sendiri kapan mata harus berkedip. Tidak pernah membuat sendiri sistem imun. Namun kita sering hidup seolah-olah semua itu hasil kerja pribadi.

Mungkin karena manusia memang mudah lupa: ketika semuanya berjalan baik, kita merasa hebat. Ketika semuanya berantakan, baru sadar bahwa kita ternyata tidak sehebat yang kita kira.

Berdoa Bukan Berarti Berhenti Berusaha

Tentu saja jangan salah memahami. Berdoa bukan pengganti bekerja. Berdoa bukan alasan untuk tidak berobat. Berdoa bukan cara untuk menghindari tanggung jawab. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mengajarkan umatnya untuk berikhtiar. Islam tidak mengajarkan kemalasan yang dibungkus tawakal.

Kita tetap harus pergi ke dokter ketika sakit. Tetap harus bekerja ketika membutuhkan nafkah. Tetap harus belajar ketika ingin pintar. Tetap harus memperbaiki diri ketika melakukan kesalahan. Tetapi di atas semua itu, kita sadar bahwa hasil akhirnya berada di luar kendali manusia.

Di situlah doa menjadi penting. Kita berusaha dengan tangan, tetapi berharap dengan hati. Kita merencanakan dengan akal, tetapi menyerahkan hasil kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Mungkin Masalahnya Bukan Tidak Punya Waktu

Sering kali kita berkata, “Saya tidak punya waktu untuk berdoa.” Benarkah? Kita punya waktu untuk membuka media sosial. Punya waktu membaca komentar orang yang bahkan tidak kita kenal. Punya waktu menonton video pendek yang awalnya berniat satu menit, tetapi tiba-tiba satu jam berlalu.

Punya waktu memikirkan apa kata orang. Punya waktu mengkhawatirkan masa depan yang belum tentu terjadi. Tetapi lima menit untuk berbicara kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala terasa berat. Mungkin persoalannya bukan waktu. Mungkin persoalannya adalah prioritas. Dan prioritas sering menunjukkan apa yang sebenarnya kita anggap penting.

Pada Akhirnya, Kita Semua Membutuhkan “Resep” Itu

Dokter memberikan resep untuk tubuh. Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan petunjuk untuk kehidupan. Dokter mengingatkan kita agar menjaga jasmani. Al-Qur’an dan sunnah mengajarkan kita menjaga jasmani sekaligus ruhani. Obat bisa menjadi sebab kesembuhan tubuh. Doa menjadi bentuk penghambaan, pengharapan, dan ketergantungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Karena itu, tidak ada alasan untuk memilih salah satunya. Minumlah obat ketika dokter meresepkannya. Dan jangan lupa “meminum” resep kehidupan yang diajarkan agama: shalat, doa, dzikir, membaca Al-Qur’an, berbuat baik, bersedekah, meminta ampun, serta memperbaiki hubungan dengan sesama.

Sebab boleh jadi kita sangat disiplin merawat tubuh agar tetap hidup lebih lama, tetapi lupa mempersiapkan jiwa untuk kehidupan yang lebih lama lagi. Manusia memang aneh. Untuk urusan dunia, kita mau disiplin luar biasa. Untuk urusan akhirat, kita sering meminta kelonggaran. Padahal dunia hanya sementara, sedangkan akhirat adalah tujuan terakhir.

Maka, kalau setiap hari kita tidak pernah lupa minum obat, jangan sampai kita lupa berdoa. Kalau kita takut satu dosis obat terlewat, semestinya kita juga takut satu hari berlalu tanpa mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebab obat mungkin membantu kita menjaga umur. Tetapi doa membantu kita mengingat untuk apa umur itu diberikan. Dan mungkin, itulah resep yang paling sering kita miliki, tetapi paling sering kita lupa minum.***

Ruli Alqodri Mustafa

Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

Post Views: 332
In HIKMAH JUMATIn Alihsan Anyer , hikmah jumat , RuliAlqodriMustafa

Post navigation

Telinga : Keajaiban Kecil yang Mengajarkan Kita untuk Mendengar

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Menjadi Mukmin yang Kuat dengan Imunisasi

On July 2, 2021July 2, 2021

Manusia Memang Aneh : Patuh Minum Obat, Malas Berdo’a

On August 21, 2026August 21, 2026

Telinga : Keajaiban Kecil yang Mengajarkan Kita untuk Mendengar

On August 14, 2026August 14, 2026

Teriaklah, Sebab Diam Tidak Pernah Mengubah Apa-apa

On August 7, 2026August 7, 2026

Mujahirin: Ketika Dosa Bukan Lagi Disembunyikan, Tapi Dijadikan Konten

On July 24, 2026July 24, 2026

Archives

  • August 2026
  • July 2026
  • June 2026
  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • November 2025
  • September 2025
  • May 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • August 2024
  • July 2024
  • June 2024
  • May 2024
  • April 2024
  • March 2024
  • February 2024
  • December 2023
  • September 2023
  • August 2023
  • July 2023
  • June 2023
  • May 2023
  • April 2023
  • March 2023
  • February 2023
  • December 2022
  • October 2022
  • September 2022
  • August 2022
  • June 2022
  • May 2022
  • April 2022
  • March 2022
  • January 2022
  • December 2021
  • November 2021
  • October 2021
  • September 2021
  • August 2021
  • July 2021
  • June 2021
  • May 2021
  • January 2021

Categories

  • HIKMAH JUMAT
  • ILMU DAN TEKNOLOGI
  • KAJIAN ISLAM
  • PENDIDIKAN
  • PONPES AL-IHSAN
  • PROMO
  • SIRAH
  • Uncategorized

Meta

  • Log in
  • Entries feed
  • Comments feed
  • WordPress.org

You May Like

  • HIKMAH JUMAT
Ruli Alqodri Mustafa
On August 21, 2026August 21, 2026

Rendah Hati Itu Tandanya Melayani

  • HIKMAH JUMAT
Ruli Alqodri Mustafa
On August 21, 2026August 21, 2026

Dunia Ini Untukmu, dan Kamu untuk Akhirat

  • HIKMAH JUMAT
Ruli Alqodri Mustafa
On August 21, 2026August 21, 2026

Apa yang Dikagumi Aisyah pada Diri Rasulullah

  • HIKMAH JUMAT
Ruli Alqodri Mustafa
On August 21, 2026August 21, 2026

Nasihat Nabi Kepada Seorang Lelaki Miskin

  • HIKMAH JUMAT
Ruli Alqodri Mustafa
On August 21, 2026August 21, 2026

Qana’ah Hati dan Qana’ah Ikhtiar

  • HIKMAH JUMAT
Ruli Alqodri Mustafa
On August 21, 2026August 21, 2026

Bantuan Segera dari Allah, Kapan Tiba?

28/04/2021- Foto-foto Kegiatan Serah Terima Bantuan dari Samora Group kepada Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyar

https://www.youtube.com/watch?v=CgscUD4N-RU

Video Pendek Moderasi Beragama/Toleransi (Judul: "Akur")
Hak Cipta @ alihsananyer.com 2021