Cobalah sesekali berhenti sejenak ketika azan berkumandang. Lihatlah langit, rasakan perubahan cahaya, lalu tanyakan kepada diri sendiri: sudah sejauh mana perjalanan hidup kita? Pagi yang tadi masih gelap perlahan menjadi terang. Matahari kemudian meninggi, bergeser ke barat, meredup, lalu tenggelam. Tanpa terasa, satu hari telah berlalu. Begitulah kehidupan manusia. Kita lahir, tumbuh, menjadi kuat, menua, lalu suatu saat meninggalkan dunia.
Di antara perjalanan matahari itulah lima waktu shalat hadir sebagai penanda. Shubuh, Zhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya bukan hanya membagi satu hari menjadi beberapa bagian, tetapi secara reflektif dapat kita renungkan sebagai gambaran perjalanan usia manusia: dari kelahiran, masa pertumbuhan, puncak kekuatan, masa senja, hingga kematian dan kehidupan setelahnya.
Shubuh adalah awal. Langit perlahan berubah dari gelap menjadi terang, alam seperti dilahirkan kembali, dan kehidupan mulai bergerak. Shubuh dapat direnungkan sebagai masa bayi dan kanak-kanak: fase ketika manusia masih lemah, polos, dan penuh kemungkinan. Seperti pagi yang baru dimulai, perjalanan kehidupan pun baru dibuka.
Kemudian datang Zhuhur. Matahari berada tinggi dan cahaya mencapai puncaknya. Ia dapat menjadi simbol masa muda dan usia produktif, ketika manusia memiliki tenaga, keberanian, cita-cita, pekerjaan, keluarga, serta kesibukan membangun masa depan. Namun di tengah kekuatan dan kesibukan itu, azan Zhuhur mengingatkan manusia untuk berhenti sejenak dan mengingat kepada siapa seluruh kehidupan ini pada akhirnya dipertanggungjawabkan.
Waktu kemudian bergerak menuju Ashar. Hari mulai condong ke sore dan bayangan semakin panjang. Ashar dapat menjadi simbol masa paruh baya, ketika manusia mulai merasakan bahwa waktu tidak berjalan mundur. Tenaga berkurang, tubuh mulai berubah, dan hasil perjalanan hidup mulai terlihat. Fase ini mengajak kita bertanya: apa yang sudah kutanam selama ini?
Setelah itu tibalah Maghrib. Matahari tenggelam dan cahaya siang perlahan menghilang. Maghrib dapat direnungkan sebagai masa tua, ketika aktivitas duniawi mulai berkurang dan manusia semakin menyadari bahwa perjalanan dunia ternyata singkat. Jabatan, kekayaan, popularitas, dan berbagai pencapaian akhirnya akan ditinggalkan. Yang penting adalah apa yang telah dipersiapkan sebagai bekal kehidupan berikutnya.
Kemudian datang Isya. Malam menutup aktivitas hari. Secara simbolik, Isya dapat direnungkan sebagai gambaran kematian dan alam Barzakh. Sebagaimana malam mengakhiri aktivitas satu hari, kematian mengakhiri kehidupan manusia di dunia. Namun kematian bukanlah akhir, karena dalam keyakinan Islam manusia akan memasuki kehidupan berikutnya dan menanti datangnya hari kebangkitan.
Lima waktu shalat itu seakan mengajarkan sebuah siklus sederhana: Shubuh adalah awal, Zhuhur adalah masa kekuatan, Ashar adalah kesadaran bahwa waktu mulai berkurang, Maghrib adalah senja kehidupan, dan Isya adalah perjalanan menuju kehidupan setelah dunia. Setelah Isya, Shubuh kembali datang. Begitu pula kehidupan manusia: kita tidak mungkin kembali menjadi bayi atau mengulang masa muda. Yang dapat dilakukan hanyalah memperbaiki apa yang masih tersisa.
Karena itu, ketika azan berkumandang, kita bukan hanya dipanggil untuk menunaikan kewajiban shalat, tetapi juga diingatkan tentang perjalanan usia. Setiap waktu yang berlalu membawa kita semakin dekat kepada akhir perjalanan. Pertanyaannya bukan sekadar berapa lama kita akan hidup, melainkan bekal apa yang telah kita siapkan ketika perjalanan itu benar-benar sampai pada waktunya.
Maka jangan hanya menghitung berapa kali kita telah melaksanakan lima waktu shalat. Hitung pula berapa banyak usia yang telah kita gunakan untuk mendekat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebab waktu tidak pernah berhenti, usia tidak pernah bertambah kembali, dan setiap manusia sedang berjalan menuju pertemuan dengan-Nya. ***
Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten
Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

