Hijrah dalam Islam secara harfiah berarti berpindah atau meninggalkan. Namun dalam makna yang lebih mendalam, hijrah bukan sekadar perpindahan tempat atau perubahan penampilan, melainkan perpindahan hati dan perilaku: meninggalkan segala yang dilarang Allah Subhanahu Wa Ta’ala menuju ketaatan kepada-Nya.
Secara historis, hijrah merujuk pada perpindahan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersama para sahabat dari Makkah ke Madinah. Akan tetapi, makna hijrah tidak berhenti pada peristiwa sejarah semata. Hijrah adalah perjalanan spiritual yang terus hidup dalam diri setiap Muslim hingga hari ini.
Hijrah sejati bukan hanya tentang perubahan tampilan luar, cara berpakaian, atau rutinitas ibadah yang terlihat oleh manusia. Hijrah yang hakiki adalah transformasi batin yang melahirkan akhlak mulia, kelembutan hati, dan kepedulian sosial. Sebab tujuan akhir hijrah bukanlah pencitraan, melainkan ketakwaan.
Di tengah kehidupan modern, istilah hijrah sering kali dipahami secara sempit. Ada yang menganggap hijrah cukup dengan mengganti gaya hidup, mengubah penampilan, atau aktif menampilkan simbol-simbol religius di media sosial. Padahal hijrah tidak boleh berhenti pada simbol. Hijrah harus menghadirkan perubahan karakter dan kematangan jiwa.
Seseorang mungkin mulai rajin menghadiri kajian, memperbanyak shalat sunnah, atau mengenakan pakaian yang lebih Islami. Semua itu tentu baik dan patut diapresiasi. Namun hijrah akan kehilangan ruhnya ketika perubahan tersebut justru melahirkan rasa paling benar, merasa paling suci, lalu mudah merendahkan orang lain.
Tidak sedikit fenomena yang muncul belakangan ini: ada yang baru mengenal agama secara mendalam, tetapi sikapnya justru menjadi keras dan gemar menghakimi. Seolah-olah semua orang harus mengikuti cara pandangnya. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diutus bukan untuk menakut-nakuti manusia, melainkan membawa rahmat dan kasih sayang.
Hijrah yang benar semestinya membuat seseorang menjadi lebih santun dalam berbicara, lebih sabar menghadapi perbedaan, dan lebih lembut kepada sesama. Semakin tinggi ilmu agama seseorang, seharusnya semakin rendah hatinya.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah mengingatkan tentang pentingnya akhlak dalam sebuah hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim. Dikisahkan ada seorang perempuan yang rajin shalat malam dan gemar berpuasa sunnah, tetapi lisannya sering menyakiti tetangganya. Ketika hal itu disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda: Lā khayra fīhā, wa hiyā fin-nār(Tidak ada kebaikan padanya dan ia termasuk penghuni neraka).
Hadis ini memberikan pelajaran yang sangat dalam. Ibadah ritual memang penting, tetapi hubungan antarmanusia juga tidak kalah penting. Shalat tahajud dan puasa sunnah adalah amal yang dianjurkan, namun menjaga lisan, menghormati tetangga, dan tidak menyakiti orang lain merupakan kewajiban yang tidak boleh diabaikan.
Islam mengajarkan keseimbangan antara ḥabl minallāh — hubungan dengan Allah — dan ḥabl minannās — hubungan dengan sesama manusia. Tidak ada makna hijrah jika seseorang terlihat saleh di hadapan Allah, tetapi kasar terhadap manusia.
Setelah peristiwa Fatḥ Makkah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menegaskan bahwa makna hijrah tidak lagi sekadar perpindahan fisik, melainkan perpindahan moral dan spiritual. Beliau bersabda: Al-muhājiru man hājara mā nahā Allāhu ‘anhu (Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah).
Karena itu, hijrah sejati adalah meninggalkan kebiasaan buruk, meninggalkan kesombongan, meninggalkan ghibah, fitnah, kebencian, dan segala perilaku yang bertentangan dengan syariat. Hijrah juga berarti belajar menjaga lisan dan tangan agar tidak menyakiti orang lain.
Muslim yang baik bukan hanya rajin beribadah, tetapi juga menghadirkan rasa aman bagi lingkungannya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, seorang Muslim sejati adalah mereka yang membuat orang lain selamat dari lisan dan tangannya.
Dalam konteks kehidupan hari ini, hijrah juga perlu dibarengi dengan ilmu yang benar. Fenomena media sosial telah membuat banyak orang belajar agama secara instan melalui potongan video singkat di TikTok, Instagram, atau platform lainnya. Padahal memahami agama tidak cukup hanya dari cuplikan konten berdurasi satu menit.
Media sosial bisa menjadi sarana dakwah yang baik, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya rujukan ilmu. Sumber utama ajaran Islam tetap Al-Qur’an dan Sunnah yang dipahami melalui bimbingan para ulama yang memiliki keilmuan dan akhlak yang lurus.
Tidak sedikit persoalan keluarga, perpecahan rumah tangga, bahkan konflik sosial yang muncul akibat pemahaman agama yang dangkal dan emosional. Karena itu, umat Islam perlu kembali menghidupkan tradisi majelis ilmu, berdialog dengan guru yang kompeten, serta belajar agama secara utuh dan bijaksana.
Pada akhirnya, hijrah bukanlah sensasi sesaat yang ramai dipertontonkan, melainkan proses panjang memperbaiki diri sepanjang hayat. Hijrah adalah perjalanan menjadi manusia yang lebih dekat kepada Allah sekaligus lebih bermanfaat bagi sesama.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Surah an-Naḥl ayat 97 bahwa siapa saja yang beriman dan beramal saleh akan diberikan kehidupan yang baik (ḥayātan ṭayyibah). Kehidupan yang baik itu lahir dari iman yang tulus, amal saleh yang ikhlas, dan akhlak yang mulia.
Maka ukuran hijrah bukanlah seberapa religius seseorang terlihat di mata manusia, melainkan seberapa besar perubahan dirinya dalam ketaatan, keikhlasan, dan kemuliaan akhlak.
Sebab hijrah sejati bukan tentang ingin terlihat saleh, tetapi tentang sungguh-sungguh menjadi hamba yang lebih baik di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.**
Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten
Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

