Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (H.R. Muslim)
Ada sebuah kalimat yang akhir-akhir ini sering terdengar, terutama ketika masyarakat menyaksikan korupsi, ketidakadilan, dan berbagai bentuk kezaliman yang seolah tak pernah habis.
“Buat apa demo? Buat apa teriak? Buat apa menulis? Toh tidak akan ada perubahan.”
Kalimat itu terdengar realistis, tetapi sesungguhnya menyimpan racun yang berbahaya: keputusasaan.
Kalau dipikir-pikir, logika itu mirip dengan seseorang yang menolak menanam pohon mangga karena besok pagi pohonnya belum tentu berbuah. Atau seperti orang yang enggan salat karena merasa belum tentu masuk surga. Lucu, bukan?
Padahal dalam Islam, kita diajarkan bahwa tugas manusia adalah berikhtiar, bukan mengendalikan hasil.
Nabi Nuh Alaihissalam berdakwah hampir seribu tahun, tetapi pengikutnya hanya segelintir orang. Kalau ukuran keberhasilan hanya dilihat dari jumlah pengikut, mungkin ada orang zaman sekarang yang akan berkata, “Percuma, Pak Nuh. Engagement-nya kecil.”
Untungnya, para nabi tidak memakai ukuran viral dan trending.
Islam mengajarkan bahwa melawan kemungkaran memiliki tiga tingkatan: dengan tangan, dengan lisan, dan dengan hati. Tidak semua orang memiliki kekuasaan untuk mengubah keadaan dengan tangan. Tidak semua orang memegang jabatan. Tetapi hampir semua orang masih memiliki lisan, tulisan, dan hati yang hidup.
Karena itu, menulis artikel, menyampaikan kritik, mengingatkan penguasa, menyuarakan keadilan, dan menolak korupsi bukanlah pekerjaan sia-sia. Itu adalah bagian dari ibadah.
Masalahnya, sebagian orang terjebak dalam mental block. Mereka menganggap sesuatu hanya bernilai jika langsung menghasilkan perubahan besar.
Padahal hujan yang deras pun berasal dari kumpulan titik-titik air yang kecil.
Perubahan sosial juga demikian. Ia lahir dari akumulasi suara-suara kecil yang tidak lelah berbicara.
Satu tulisan bisa membangunkan satu pikiran.
Satu pidato bisa membangkitkan satu generasi.
Satu keberanian bisa menular kepada seribu orang.
Keheningan, sebaliknya, justru menjadi pupuk bagi kezaliman.
Bahkan para pelaku kezaliman sering kali tidak takut kepada orang-orang jahat lainnya. Mereka justru takut kepada orang-orang baik yang berani bersuara.
Sebab suara kebenaran memiliki daya yang aneh. Ia tidak selalu langsung merobohkan tembok, tetapi perlahan-lahan membuat retak pondasinya.
Sejarah membuktikan bahwa perubahan besar sering dimulai dari orang-orang yang dianggap cerewet.
Dulu, para pejuang kemerdekaan dianggap pengacau.
Para pembela keadilan dianggap pemimpi.
Para penulis kritik dianggap pembuat gaduh.
Namun ternyata, “kegaduhan” itulah yang kemudian melahirkan perubahan.
Maka jangan pernah meremehkan sebuah tulisan, sebuah ceramah, atau sebuah teriakan melawan kemungkaran.
Di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, nilai amal tidak semata-mata diukur dari hasil, tetapi dari ketulusan usaha.
Ketika kita memilih diam padahal mampu berbicara, sesungguhnya kita sedang memberi ruang nyaman bagi kebatilan.
Sebaliknya, ketika kita bersuara sesuai kemampuan, kita telah menggugurkan kewajiban di hadapan Allah.
Kalaupun perubahan belum datang hari ini, siapa tahu suara kita menjadi satu batu kecil yang menyusun jalan menuju perubahan itu.
Bukankah azan yang dikumandangkan lima kali sehari juga pada hakikatnya adalah “teriakan” suci yang terus diulang tanpa pernah bosan?
Tidak semua orang langsung datang ke masjid. Namun azan tetap dikumandangkan.
Karena tugas muazin bukan memastikan semua orang hadir, melainkan menyampaikan panggilan.
Begitu pula tugas kita.
Bersuaralah.
Menulislah.
Ingatkanlah.
Tolaklah kemungkaran sesuai kemampuan.
Kalau tangan tidak mampu, gunakan lisan.
Kalau lisan dibungkam, gunakan tulisan.
Kalau tulisan tak didengar, setidaknya hati jangan ikut berdamai dengan kezaliman.
Sebab yang benar-benar sia-sia bukanlah orang yang terus berteriak menegakkan kebenaran.
Yang sia-sia adalah mereka yang memilih diam, lalu berharap dunia berubah dengan sendirinya.
Dan kita tahu, sejak Nabi Adam Alaihissalam turun ke bumi, belum pernah ada kezaliman yang pergi karena diminta baik-baik oleh keheningan.**
Tentang Penulis
Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics and Social Studies – Cilegon, Banten. Menempuh pendidikan di FEUI Jakarta (1983). Ilmu Hukum di STIH Iblam Jakarta (2000). Alumnus Madrasah Ibtidaiyah Al Hadid komplek Krakatau Steel Cilegon Banten (1976) dan pernah nyantri di sebuah Ponpes di Tasikmalaya, Jawa Barat (1979) serta mengaji Kepada Ustadz Kampung di seputaran Banten dan Kepada beberapa Kiai Sepuh MU dan NU di Cilegon, Jakarta, Tasikmalaya, Sukabumi dan Surabaya.
Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

