“Setiap umatku akan diampuni kecuali orang-orang yang melakukan dosa secara terang-terangan (mujahirin).” (H.R. Bukhari danMuslim)*
Ada zaman ketika orang berbuat dosa lalu buru-buru menutup pintu, mematikan lampu, dan berharap tidak ada yang melihat. Sekarang? Ada yang justru memasang tripod, menyalakan ring light, memilih filter terbaik, lalu menulis caption, “No judge, this is my life.” atau pakai kalimat pembelaan semu : ” gue sih ngga munafik ya?”, lalu dengan enteng membongkar aib aib nya sendiri. Bangga dengan dosa dosa.., Naudzubillahi min dzalik !.
Ironisnya, dosa yang dahulu disembunyikan kini berubah menjadi konten. Bukan lagi sekadar pelanggaran terhadap syariat, melainkan bahan promosi diri. Yang penting viral, urusan akhirat nanti dipikir belakangan. Kalau perlu, jumlah likes dijadikan ukuran keberhasilan hidup. Inilah yang dalam Islam dikenal sebagai mujaharah, sedangkan pelakunya disebut mujahirin.
Islam sangat memahami bahwa manusia bukan malaikat. Kita bisa tergelincir, khilaf, bahkan jatuh dalam dosa. Namun, Allah Yang Maha Pengampun memiliki satu bentuk kasih sayang yang sering tidak kita sadari: Allah menutupi aib hamba-Nya.
Betapa banyak dosa yang tidak diketahui manusia. Betapa banyak kesalahan yang Allah simpan rapat agar kehormatan seorang hamba tetap terjaga. Seandainya seluruh dosa diputar di layar raksasa, mungkin tidak ada manusia yang berani mengangkat kepala. Sayangnya, sebagian orang justru membuka sendiri tirai yang telah Allah tutup.
Fenomena ini semakin nyata di era media sosial. Ada yang bangga memamerkan pesta minuman keras, hubungan di luar nikah, perselingkuhan, perjudian, penipuan, penghinaan kepada orang tua, hingga berbagai bentuk kemaksiatan lain. Bahkan ada yang menganggapnya sebagai simbol keberanian, kebebasan, dan modernitas.
Padahal, keberanian terbesar bukanlah berani berbuat dosa di depan kamera. Keberanian sejati adalah berani melawan hawa nafsu ketika tidak ada kamera yang merekam.
Media sosial sebenarnya hanyalah alat. Pisau yang sama bisa digunakan untuk memotong buah atau melukai orang. Namun, ketika media sosial berubah menjadi panggung pamer maksiat, ia bukan lagi sekadar teknologi, melainkan etalase kesombongan spiritual.
Dulu orang berlomba-lomba menghafal Al-Qur’an. Sekarang sebagian orang lebih hafal jam terbaik untuk mengunggah kemaksiatan agar masuk FYP.
Dulu orang berharap namanya tercatat di langit. Sekarang lebih sibuk mengejar nama di kolom trending. Dulu malu jika diketahui berbuat dosa. Kini malah malu kalau dosanya sepi penonton.
Lebih lucu lagi, setelah videonya viral, muncul kalimat klasik, “Jangan menghakimi ya, semua orang punya salah.”
Benar. Semua orang memang punya salah. Tetapi tidak semua orang menjadikan kesalahannya sebagai hiburan publik.
Ada perbedaan besar antara pendosa yang menangis di sepertiga malam dengan pendosa yang membuat serial konten tentang dosanya. Yang pertama sedang mencari ampunan. Yang kedua sedang mencari penonton.
Rasulullah Saw. memberikan peringatan yang sangat tegas. Orang yang melakukan dosa secara terang-terangan termasuk golongan yang terancam tidak memperoleh ampunan sebagaimana disebutkan dalam hadis. Bukan karena Allah tidak Maha Pengampun, tetapi karena pelaku mujaharah telah meremehkan dosa, menghilangkan rasa malu, bahkan terkadang mengajak orang lain mengikuti jejaknya.
Dalam psikologi sosial dikenal istilah normalisasi. Sesuatu yang terus-menerus dipertontonkan lama-kelamaan dianggap biasa. Ketika maksiat menjadi tontonan harian, generasi berikutnya bisa kehilangan sensitivitas terhadap dosa. Yang dahulu terasa memalukan berubah menjadi sesuatu yang dianggap lumrah.
Di sinilah bahaya mujaharah. Kerusakannya tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi dapat menjalar menjadi virus sosial. Namun, Islam tidak pernah menutup pintu harapan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman; “Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.: (Q. S. Az-Zumar: 53)
Ayat ini adalah pelukan kasih sayang Allah kepada siapa pun yang ingin kembali. Seberat apa pun dosa seseorang, selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan matahari belum terbit dari barat, pintu tobat masih terbuka.
Yang perlu dilakukan bukan menghapus jejak digital semata, tetapi menghapus kesombongan di dalam hati. Bukan hanya menghilangkan unggahan, tetapi juga memperbaiki kehidupan.
Kalau dulu pernah memamerkan maksiat, kini saatnya memamerkan taubat—bukan dengan slogan, melainkan dengan perubahan akhlak. Pada akhirnya, hidup ini bukan perlombaan mencari penonton, melainkan mencari ridha Allah.
Karena di hari ketika seluruh layar dunia dimatikan, tidak ada lagi jumlah pengikut, jumlah tayangan, atau centang biru yang dapat menyelamatkan manusia. Yang tersisa hanyalah amal.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang jika berbuat salah segera bertobat, jika berbuat baik tetap rendah hati, dan jika diberi kesempatan berbicara di ruang publik, lebih memilih menyebarkan ilmu daripada mengiklankan dosa. Sebab tidak semua yang viral itu bernilai. Dan tidak semua yang tersembunyi itu merugi.
Boleh jadi, justru dosa yang tidak pernah diketahui manusia itulah yang mengantarkan seseorang kepada taubat yang membuatnya dicintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala.**
Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten
