Skip to content
September 26, 2026
Trending Tags
hikmah jumat Alihsan Anyer RuliAlqodriMustafa dakwah Suryana Sudrajat puasa pendidikan takwa
AL-IHSAN ANYER

AL-IHSAN ANYER

Media Dakwah, Pendidikan & Pengetahuan Keislaman

  • PENDIDIKAN
  • SIRAH
  • KAJIAN ISLAM
  • ILMU DAN TEKNOLOGI
  • TENTANG KAMI
  • PONPES AL-IHSAN

Breaking News

Ketika Dakwah Dipakai untuk Membingkai dan Menyudutkan

Lima Waktu Shalat, Lima Tahap Perjalanan Hidup

Tubuh Kita: Kitab Terbuka tentang Kebesaran Allah

Ketika Kulit Menjadi Saksi

Manusia Memang Aneh : Patuh Minum Obat, Malas Berdo’a

Telinga : Keajaiban Kecil yang Mengajarkan Kita untuk Mendengar

Teriaklah, Sebab Diam Tidak Pernah Mengubah Apa-apa

Mujahirin: Ketika Dosa Bukan Lagi Disembunyikan, Tapi Dijadikan Konten

Menjaga Kehormatan di Tengah Kekurangan

Hijrah Itu Esensi, Bukan Sensasi

  • Home
  • 2026
  • September
  • 25
  • Ketika Dakwah Dipakai untuk Membingkai dan Menyudutkan
  • HIKMAH JUMAT

Ketika Dakwah Dipakai untuk Membingkai dan Menyudutkan

On September 25, 2026
AL IHSAN ANYER

Perbedaan pendapat dalam Islam bukanlah sesuatu yang baru. Sejarah keilmuan Islam memperlihatkan bagaimana ulama berbeda dalam memahami teks, memilih metode istinbath, dan menyikapi persoalan yang tidak memiliki satu tafsir tunggal. Masalah muncul ketika khilafiyah tidak lagi ditempatkan sebagai ruang dialog ilmiah, tetapi dibingkai menjadi pertarungan antara “kita” dan “mereka”.

Di sinilah framing bekerja. Sebuah kelompok tidak diperkenalkan melalui keseluruhan ajaran, sejarah, dan keragamannya, melainkan melalui potongan informasi yang dipilih untuk membentuk kesan tertentu. Kesalahan satu orang digeneralisasi menjadi kesalahan seluruh kelompok. Pernyataan yang memiliki konteks dipotong. Bahkan perbedaan furu’iyah dapat diangkat seolah-olah merupakan persoalan akidah.

Labeling kemudian menjadi senjata. Sebutan seperti “sesat”, “bid’ah”, “syirik”, atau “munafik” dapat berubah fungsi ketika digunakan bukan untuk menjelaskan konsep secara ilmiah, tetapi untuk mengunci persepsi sebelum orang memahami persoalannya. Ketika label lebih dahulu hadir daripada argumentasi, ruang dialog pun menyempit.

Framing juga tumbuh melalui generalisasi dan cherry-picking dalil. Satu kesalahan individu dianggap mewakili seluruh komunitas. Satu pernyataan kontroversial seorang tokoh dijadikan gambaran semua pengikutnya. Ayat atau hadis tertentu ditampilkan karena mendukung kesimpulan yang hendak dibangun, sementara konteks, penjelasan ulama, dan perbedaan tafsir tidak disampaikan.

Yang lebih berbahaya adalah ketika perbedaan fikih dipindahkan ke wilayah akidah. Perbedaan metode berubah menjadi tuduhan penyimpangan. Perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan identitas. Padahal khilafiyah merupakan bagian dari sejarah pemikiran Islam dan tidak selalu berarti pertentangan dalam perkara pokok agama.

Narasi ancaman kemudian membuat framing semakin kuat. Kelompok tertentu digambarkan membawa agenda rahasia, merusak moral, menguasai lembaga, atau menghancurkan tradisi. Ketakutan menjadi bahan bakar. Jamaah tidak lagi diajak bertanya, “Apa faktanya?”, tetapi diarahkan untuk berpikir, “Bagaimana kalau mereka benar-benar mengancam kita?”

Di media sosial, pola ini semakin mudah berkembang. Potongan video beberapa detik dapat mengalahkan penjelasan panjang. Judul provokatif sering lebih cepat menyebar daripada konteks. Algoritma mempertemukan orang dengan konten yang menguatkan keyakinan sebelumnya. Akibatnya, persepsi dapat terbentuk jauh lebih cepat daripada proses verifikasi.

Karena itu, literasi dakwah tidak cukup hanya dengan kemampuan mengutip ayat dan hadis. Ia membutuhkan kemampuan membaca konteks, memeriksa sumber, membedakan fakta dari opini, memahami khilafiyah, serta mengenali manipulasi bahasa dan informasi.

Dakwah semestinya mendekatkan manusia kepada kebenaran, bukan membuat manusia semakin mudah membenci sesamanya. Perbedaan boleh dikritik dengan argumentasi, tetapi kritik tidak membutuhkan fitnah. Dalil boleh dijadikan dasar keyakinan, tetapi tidak semestinya dijadikan senjata untuk membangun kebencian.

Sebab ketika dakwah mulai membutuhkan musuh agar terlihat benar, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah kita sedang membela kebenaran, atau sedang membela cara kita membingkai kebenaran?**

Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

AL IHSAN ANYER
Post Views: 142
In HIKMAH JUMATIn Alihsan Anyer , hikmah jumat , RuliAlqodriMustafa

Post navigation

Lima Waktu Shalat, Lima Tahap Perjalanan Hidup

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Menjadi Mukmin yang Kuat dengan Imunisasi

On July 2, 2021July 2, 2021

Ketika Dakwah Dipakai untuk Membingkai dan Menyudutkan

On September 25, 2026

Lima Waktu Shalat, Lima Tahap Perjalanan Hidup

On September 18, 2026

Tubuh Kita: Kitab Terbuka tentang Kebesaran Allah

On September 11, 2026September 11, 2026

Ketika Kulit Menjadi Saksi

On September 4, 2026September 4, 2026

Archives

  • September 2026
  • August 2026
  • July 2026
  • June 2026
  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • November 2025
  • September 2025
  • May 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • August 2024
  • July 2024
  • June 2024
  • May 2024
  • April 2024
  • March 2024
  • February 2024
  • December 2023
  • September 2023
  • August 2023
  • July 2023
  • June 2023
  • May 2023
  • April 2023
  • March 2023
  • February 2023
  • December 2022
  • October 2022
  • September 2022
  • August 2022
  • June 2022
  • May 2022
  • April 2022
  • March 2022
  • January 2022
  • December 2021
  • November 2021
  • October 2021
  • September 2021
  • August 2021
  • July 2021
  • June 2021
  • May 2021
  • January 2021

Categories

  • HIKMAH JUMAT
  • ILMU DAN TEKNOLOGI
  • KAJIAN ISLAM
  • PENDIDIKAN
  • PONPES AL-IHSAN
  • PROMO
  • SIRAH
  • Uncategorized

Meta

  • Log in
  • Entries feed
  • Comments feed
  • WordPress.org

You May Like

  • HIKMAH JUMAT
AL IHSAN ANYER
On September 25, 2026

Bersikap Empatik Seperti Rasulullah

  • HIKMAH JUMAT
AL IHSAN ANYER
On September 25, 2026

Kisah Fariduddin Attar tentang Perempuan dan Keindahannya

  • HIKMAH JUMAT
AL IHSAN ANYER
On September 25, 2026

Hijrah Itu Esensi, Bukan Sensasi

  • HIKMAH JUMAT
AL IHSAN ANYER
On September 25, 2026

Ini Pesan Nabi Jika Kita Ingin Berhasil dan Berkah

  • HIKMAH JUMAT
AL IHSAN ANYER
On September 25, 2026

Doa Orang yang Berpuasa, dan Latihan Melawan Hawa Nafsu

  • HIKMAH JUMAT
AL IHSAN ANYER
On September 25, 2026

Menjadikan Zakat sebagai Akhlak Sosial

28/04/2021- Foto-foto Kegiatan Serah Terima Bantuan dari Samora Group kepada Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyar

https://www.youtube.com/watch?v=CgscUD4N-RU

Video Pendek Moderasi Beragama/Toleransi (Judul: "Akur")
Hak Cipta @ alihsananyer.com 2021