Kita sering mencari tanda-tanda kebesaran Allah terlalu jauh. Menatap langit, mengagumi galaksi, memperhatikan gunung, lautan, dan luasnya alam semesta. Semua itu memang layak membuat manusia takjub. Tetapi ada satu “alam semesta” yang sering kita abaikan: diri kita sendiri.
Al-Qur’an justru mengingatkan manusia agar melihat ke dalam dirinya. Allah berfirman dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 20–21: “Dan di bumi terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang yakin, dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”.
Ayat ini menarik. Allah tidak hanya mengajak manusia melihat ke luar, tetapi juga ke dalam. Seolah-olah manusia sedang diminta berhenti sejenak dari kesibukannya, lalu6 mengamati dirinya sendiri. Ironisnya, manusia kadang sangat rajin mengagumi teknologi buatan manusia, tetapi lupa bahwa perangkat paling rumit yang dibawanya ke mana-mana adalah tubuhnya sendiri.
Coba bayangkan otak. Kita menggunakannya untuk berpikir, mengingat, berbicara, mengambil keputusan, belajar, berimajinasi, bahkan mempertanyakan keberadaan Tuhan. Kita bisa mempelajari otak dengan ilmu pengetahuan, memetakan aktivitas saraf, dan memahami sebagian mekanismenya. Namun semakin banyak yang dipelajari, semakin terlihat bahwa tubuh manusia bukan sesuatu yang sederhana. Lalu ada jantung. Ia bekerja tanpa menunggu kita memerintahkannya. Ketika kita tidur, ia tetap bekerja. Ketika kita sibuk, ia tetap bekerja. Ketika kita lupa bahwa kita sedang hidup, ia justru terus menjalankan tugasnya.
Kita baru sering menghargai jantung setelah ia bermasalah. Selama sehat, detaknya terasa seperti sesuatu yang biasa. Padahal “biasa” bukan berarti sederhana. Justru karena berlangsung terus-menerus tanpa kita sadari, kita sering lupa betapa besar nikmat yang sedang berlangsung di dalam tubuh. Demikian pula paru-paru. Setiap saat kita menarik dan mengembuskan napas. Udara masuk, sistem pernapasan bekerja, pertukaran gas berlangsung, dan oksigen kemudian dimanfaatkan tubuh. Semuanya berjalan tanpa rapat koordinasi, tanpa alarm, tanpa tombol “mulai”.
Manusia modern mungkin membutuhkan aplikasi untuk mengingat minum air, berolahraga, tidur, dan berdiri dari kursi. Tetapi tubuh sendiri telah memiliki berbagai sistem pengaturan yang bekerja jauh sebelum manusia mengenal smartphone. Kulit pun bukan sekadar pembungkus tubuh. Ia menjadi bagian penting dari sistem perlindungan dan pengindraan. Kelenjar keringat membantu pengaturan suhu, sementara ujung-ujung saraf memungkinkan kita merasakan sentuhan, tekanan, panas, dan dingin.
Kemudian ada sidik jari. Guratan kecil pada ujung jari yang selama ini kita anggap biasa ternyata dapat menjadi ciri biometrik penting dalam identifikasi seseorang. Analisis forensik membandingkan pola garis, percabangan, dan karakteristik lain pada sidik jari untuk menilai apakah suatu jejak berasal dari individu tertentu. Menariknya, kita membawa “identitas” itu ke mana pun kita pergi. Tidak perlu kartu nama. Tidak perlu memperkenalkan diri. Jari kita sudah memiliki pola yang menjadi bagian dari identitas biologis kita. Namun di sinilah kita perlu berhati-hati.
Mengagumi tubuh manusia sebagai tanda kebesaran Allah tidak berarti setiap fakta biologi harus dipaksa menjadi “ramalan ilmiah” dari Al-Qur’an. Al-Qur’an bukan buku teks anatomi. Ia adalah petunjuk. Sementara ilmu pengetahuan membantu manusia mengamati, mengukur, dan memahami sebagian mekanisme ciptaan. Keduanya dapat berdialog tanpa harus dipaksakan menjadi hal yang sama. Justru pendekatan seperti ini lebih menarik. Ketika ilmu pengetahuan menemukan betapa kompleksnya sistem tubuh manusia, seorang beriman tidak perlu berkata, “Ini membuktikan semua detail sains sudah dijelaskan Al-Qur’an.” Cukup katakan: semakin dalam kita memahami ciptaan, semakin banyak alasan untuk merenung tentang Sang Pencipta.

Para mufasir juga memahami Surah Adz-Dzariyat ayat 21 sebagai ajakan untuk memperhatikan tanda-tanda yang terdapat dalam diri manusia. Tafsir ath-Thabari, misalnya, menjelaskan bahwa pada diri manusia terdapat tanda dan pelajaran yang mengarahkan kepada pengenalan terhadap keesaan Sang Pencipta. Jadi persoalannya bukan semata-mata seberapa banyak fakta anatomi yang dapat kita hafalkan. Persoalan yang lebih penting adalah: setelah mengetahui semua itu, apakah kita menjadi lebih rendah hati?
Sebab ada manusia yang mengetahui sangat banyak tentang tubuh, tetapi semakin sombong terhadap kehidupan. Ada pula yang tidak menguasai istilah-istilah medis, tetapi ketika melihat dirinya masih mampu bernapas, berjalan, melihat, mendengar, berpikir, dan berbicara, ia mampu mengucapkan syukur. Ilmu seharusnya tidak membuat manusia merasa menjadi Tuhan. Ilmu justru semestinya membuat manusia sadar betapa terbatas dirinya.
Kita mampu melakukan transplantasi, membuat alat bantu jantung, memetakan otak, mencetak organ tertentu, dan mengembangkan teknologi medis. Tetapi semua kemampuan itu pada akhirnya tetap bekerja dengan memanfaatkan hukum-hukum alam yang tidak kita ciptakan sendiri. Manusia memang hebat dalam menemukan. Tetapi jangan sampai lupa: menemukan bukan berarti menciptakan dari ketiadaan.
Di depan cermin, kita sebenarnya sedang melihat sebuah “laboratorium” yang jauh lebih rumit daripada banyak benda yang kita kagumi. Mata yang memungkinkan kita melihat cermin itu sendiri, otak yang mengenali wajah di dalamnya, jantung yang terus berdetak, paru-paru yang terus bekerja, kulit yang melindungi tubuh, serta jaringan saraf yang memungkinkan kita merasakan dunia—semuanya berlangsung hampir tanpa kita sadari.
Mungkin itulah salah satu makna penting dari firman Allah: “Dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”. Pertanyaannya sederhana, tetapi menampar kesombongan manusia. Kita sudah melihat begitu banyak hal. Tetapi apakah kita benar-benar memperhatikan?
Jangan sampai manusia sibuk mencari tanda-tanda kebesaran Allah di langit, sementara tanda-tanda itu setiap hari ikut berjalan bersamanya. Tubuh kita bukan sekadar mesin biologis yang hidup sementara. Ia adalah amanah, nikmat, sekaligus bahan renungan.
Maka ketika jantung masih berdetak, jangan hanya menghitung denyutnya. Ketika paru-paru masih mengembang, jangan hanya menganggapnya sebagai rutinitas. Ketika mata masih melihat, telinga masih mendengar, dan akal masih mampu berpikir, jangan buru-buru menganggap semuanya sebagai sesuatu yang otomatis dan biasa. Sebab terkadang yang paling luar biasa justru adalah sesuatu yang setiap hari kita anggap biasa.
Dan mungkin, di sanalah manusia perlu belajar kembali: kebesaran Allah tidak selalu harus dicari jauh-jauh. Sebagiannya ada pada diri kita sendiri. Kita hanya perlu berhenti sejenak, melihat, berpikir, lalu bersyukur.***
Referensi
- Al-Qur’an, Surah Adz-Dzariyat 51:20–21— sebagai landasan utama refleksi tentang tanda-tanda kebesaran Allah pada alam dan diri manusia.
- Tafsir ath-Thabari, Surah Adz-Dzariyat 51:21 — memberikan konteks tafsir klasik bahwa pada diri manusia terdapat tanda dan pelajaran yang mengarahkan kepada pengenalan terhadap Sang Pencipta.
- National Institute of Standards and Technology (NIST), Forensic Biometrics— rujukan institusional mengenai penggunaan karakteristik sidik jari dalam identifikasi forensik.
Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten
Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

