Skip to content
July 24, 2026
Trending Tags
Alihsan Anyer hikmah jumat RuliAlqodriMustafa dakwah Suryana Sudrajat puasa MAULID NABI MUHAMMAD pendidikan
AL-IHSAN ANYER

AL-IHSAN ANYER

Media Dakwah, Pendidikan & Pengetahuan Keislaman

  • PENDIDIKAN
  • SIRAH
  • KAJIAN ISLAM
  • ILMU DAN TEKNOLOGI
  • TENTANG KAMI
  • PONPES AL-IHSAN

Breaking News

Mujahirin: Ketika Dosa Bukan Lagi Disembunyikan, Tapi Dijadikan Konten

Menjaga Kehormatan di Tengah Kekurangan

Hijrah Itu Esensi, Bukan Sensasi

Fitnah Akhir Zaman : Ujian Iman di Tengah Kaburnya Kebenaran

Salah, Dosa, dan Jalan Pulang kepada Allah

Rokok, Kesadaran Jiwa, dan Cinta kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam

Inilah Siratal Mustakim yang Digambarkan  Rasulullah Saw

Kisah Dua Sufi Perempuan

Dakwah Nabi dan Sikap Para Pembesar

Buya Hamka: Puasa adalah Proses Pendidikan Budi

  • Home
  • 2026
  • July
  • 24
  • Mujahirin: Ketika Dosa Bukan Lagi Disembunyikan, Tapi Dijadikan Konten
  • HIKMAH JUMAT

Mujahirin: Ketika Dosa Bukan Lagi Disembunyikan, Tapi Dijadikan Konten

On July 24, 2026July 24, 2026
AL IHSAN ANYER

“Setiap umatku akan diampuni kecuali orang-orang yang melakukan dosa secara terang-terangan (mujahirin).” (H.R. Bukhari danMuslim)*

Ada zaman ketika orang berbuat dosa lalu buru-buru menutup pintu, mematikan lampu, dan berharap tidak ada yang melihat. Sekarang? Ada yang justru memasang tripod, menyalakan ring light, memilih filter terbaik, lalu menulis caption, “No judge, this is my life.” atau pakai kalimat pembelaan semu : ” gue sih ngga munafik ya?”, lalu dengan enteng membongkar aib aib nya sendiri. Bangga dengan dosa dosa.., Naudzubillahi min dzalik !.

Ironisnya, dosa yang dahulu disembunyikan kini berubah menjadi konten. Bukan lagi sekadar pelanggaran terhadap syariat, melainkan bahan promosi diri. Yang penting viral, urusan akhirat nanti dipikir belakangan. Kalau perlu, jumlah likes dijadikan ukuran keberhasilan hidup. Inilah yang dalam Islam dikenal sebagai mujaharah, sedangkan pelakunya disebut mujahirin.

Islam sangat memahami bahwa manusia bukan malaikat. Kita bisa tergelincir, khilaf, bahkan jatuh dalam dosa. Namun, Allah Yang Maha Pengampun memiliki satu bentuk kasih sayang yang sering tidak kita sadari: Allah menutupi aib hamba-Nya.

Betapa banyak dosa yang tidak diketahui manusia. Betapa banyak kesalahan yang Allah simpan rapat agar kehormatan seorang hamba tetap terjaga. Seandainya seluruh dosa diputar di layar raksasa, mungkin tidak ada manusia yang berani mengangkat kepala. Sayangnya, sebagian orang justru membuka sendiri tirai yang telah Allah tutup.

Fenomena ini semakin nyata di era media sosial. Ada yang bangga memamerkan pesta minuman keras, hubungan di luar nikah, perselingkuhan, perjudian, penipuan, penghinaan kepada orang tua, hingga berbagai bentuk kemaksiatan lain. Bahkan ada yang menganggapnya sebagai simbol keberanian, kebebasan, dan modernitas.

Padahal, keberanian terbesar bukanlah berani berbuat dosa di depan kamera. Keberanian sejati adalah berani melawan hawa nafsu ketika tidak ada kamera yang merekam.

Media sosial sebenarnya hanyalah alat. Pisau yang sama bisa digunakan untuk memotong buah atau melukai orang. Namun, ketika media sosial berubah menjadi panggung pamer maksiat, ia bukan lagi sekadar teknologi, melainkan etalase kesombongan spiritual.

Dulu orang berlomba-lomba menghafal Al-Qur’an. Sekarang sebagian orang lebih hafal jam terbaik untuk mengunggah kemaksiatan agar masuk FYP.

Dulu orang berharap namanya tercatat di langit. Sekarang lebih sibuk mengejar nama di kolom trending. Dulu malu jika diketahui berbuat dosa. Kini malah malu kalau dosanya sepi penonton.

Lebih lucu lagi, setelah videonya viral, muncul kalimat klasik, “Jangan menghakimi ya, semua orang punya salah.”

Benar. Semua orang memang punya salah. Tetapi tidak semua orang menjadikan kesalahannya sebagai hiburan publik.

Ada perbedaan besar antara pendosa yang menangis di sepertiga malam dengan pendosa yang membuat serial konten tentang dosanya. Yang pertama sedang mencari ampunan. Yang kedua sedang mencari penonton.

Rasulullah Saw. memberikan peringatan yang sangat tegas. Orang yang melakukan dosa secara terang-terangan termasuk golongan yang terancam tidak memperoleh ampunan sebagaimana disebutkan dalam hadis. Bukan karena Allah tidak Maha Pengampun, tetapi karena pelaku mujaharah telah meremehkan dosa, menghilangkan rasa malu, bahkan terkadang mengajak orang lain mengikuti jejaknya.

Dalam psikologi sosial dikenal istilah normalisasi. Sesuatu yang terus-menerus dipertontonkan lama-kelamaan dianggap biasa. Ketika maksiat menjadi tontonan harian, generasi berikutnya bisa kehilangan sensitivitas terhadap dosa. Yang dahulu terasa memalukan berubah menjadi sesuatu yang dianggap lumrah.

Di sinilah bahaya mujaharah. Kerusakannya tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi dapat menjalar menjadi virus sosial. Namun, Islam tidak pernah menutup pintu harapan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman; “Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.: (Q. S. Az-Zumar: 53)

Ayat ini adalah pelukan kasih sayang Allah kepada siapa pun yang ingin kembali. Seberat apa pun dosa seseorang, selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan matahari belum terbit dari barat, pintu tobat masih terbuka.

Yang perlu dilakukan bukan menghapus jejak digital semata, tetapi menghapus kesombongan di dalam hati. Bukan hanya menghilangkan unggahan, tetapi juga memperbaiki kehidupan.

Kalau dulu pernah memamerkan maksiat, kini saatnya memamerkan taubat—bukan dengan slogan, melainkan dengan perubahan akhlak. Pada akhirnya, hidup ini bukan perlombaan mencari penonton, melainkan mencari ridha Allah.

Karena di hari ketika seluruh layar dunia dimatikan, tidak ada lagi jumlah pengikut, jumlah tayangan, atau centang biru yang dapat menyelamatkan manusia. Yang tersisa hanyalah amal.

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang jika berbuat salah segera bertobat, jika berbuat baik tetap rendah hati, dan jika diberi kesempatan berbicara di ruang publik, lebih memilih menyebarkan ilmu daripada mengiklankan dosa. Sebab tidak semua yang viral itu bernilai. Dan tidak semua yang tersembunyi itu merugi.

Boleh jadi, justru dosa yang tidak pernah diketahui manusia itulah yang mengantarkan seseorang kepada taubat yang membuatnya dicintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala.**

Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

AL IHSAN ANYER
Post Views: 6
In HIKMAH JUMATIn Alihsan Anyer , hikmah jumat , RuliAlqodriMustafa

Post navigation

Menjaga Kehormatan di Tengah Kekurangan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Menjadi Mukmin yang Kuat dengan Imunisasi

On July 2, 2021July 2, 2021

Mujahirin: Ketika Dosa Bukan Lagi Disembunyikan, Tapi Dijadikan Konten

On July 24, 2026July 24, 2026

Menjaga Kehormatan di Tengah Kekurangan

On July 10, 2026July 10, 2026

Hijrah Itu Esensi, Bukan Sensasi

On June 19, 2026June 19, 2026

Fitnah Akhir Zaman : Ujian Iman di Tengah Kaburnya Kebenaran

On June 12, 2026June 12, 2026

Archives

  • July 2026
  • June 2026
  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • November 2025
  • September 2025
  • May 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • August 2024
  • July 2024
  • June 2024
  • May 2024
  • April 2024
  • March 2024
  • February 2024
  • December 2023
  • September 2023
  • August 2023
  • July 2023
  • June 2023
  • May 2023
  • April 2023
  • March 2023
  • February 2023
  • December 2022
  • October 2022
  • September 2022
  • August 2022
  • June 2022
  • May 2022
  • April 2022
  • March 2022
  • January 2022
  • December 2021
  • November 2021
  • October 2021
  • September 2021
  • August 2021
  • July 2021
  • June 2021
  • May 2021
  • January 2021

Categories

  • HIKMAH JUMAT
  • ILMU DAN TEKNOLOGI
  • KAJIAN ISLAM
  • PENDIDIKAN
  • PONPES AL-IHSAN
  • PROMO
  • SIRAH
  • Uncategorized

Meta

  • Log in
  • Entries feed
  • Comments feed
  • WordPress.org

You May Like

  • HIKMAH JUMAT
AL IHSAN ANYER
On July 24, 2026July 24, 2026

SHOLAT YANG KHUSYUK

  • HIKMAH JUMAT
AL IHSAN ANYER
On July 24, 2026July 24, 2026

Mahabbah, Saat Cinta Ilahi Bergelora di Hati

  • HIKMAH JUMAT
AL IHSAN ANYER
On July 24, 2026July 24, 2026

Ikhlas, Rahasia dari Rahasianya Tuhan

  • HIKMAH JUMAT
AL IHSAN ANYER
On July 24, 2026July 24, 2026

Inilah Siratal Mustakim yang Digambarkan  Rasulullah Saw

  • HIKMAH JUMAT
AL IHSAN ANYER
On July 24, 2026July 24, 2026

Bersedekah Tak Harus Nunggu Kaya

  • HIKMAH JUMAT
AL IHSAN ANYER
On July 24, 2026July 24, 2026

Apa yang Dikagumi Aisyah pada Diri Rasulullah

28/04/2021- Foto-foto Kegiatan Serah Terima Bantuan dari Samora Group kepada Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyar

https://www.youtube.com/watch?v=CgscUD4N-RU

Video Pendek Moderasi Beragama/Toleransi (Judul: "Akur")
Hak Cipta @ alihsananyer.com 2021