Dalam sebuah ulasan mendalam yang dimuat di majalah Panji Masyarakat, Buya Hamka membedah urgensi puasa dengan menyandingkan pemikiran Islam terhadap teori-teori besar dunia. Ulama besar dan pengarang Tafsir Al-Azhar ini mengajak kita melihat puasa bukan sekadar ritual haus dan lapar, melainkan sebuah benteng peradaban.
Buya Hamka memulai analisisnya dengan menyoroti dua pemikir Barat yang dominan: Karl Marx dan Sigmund Freud. Dia memaparkan pandangan Marx yang mengecilkan eksistensi manusia hanya pada urusan perut—bahwa perang dan damai hanyalah soal perebutan makanan yang kemudian berubah menjadi kerakusan harta dan penindasan. Di sisi lain, Hamka mengkritik Freud yang melihat manusia hanya digerakkan oleh libido (seks), sebuah pandangan yang menurut Hamka telah menjerumuskan manusia modern ke dalam kekacauan moral dan hilangnya kesucian pernikahan.
Kearifan Al-Ghazali dalam Kacamata Hamka
Namun, Buya Hamka mengingatkan bahwa jauh sebelum kedua tokoh itu lahir, Imam Al-Ghazali telah lebih dulu memetakan dua motor penggerak manusia: syahwat perut dan syahwat kemaluan. Perbedannya, Hamka menegaskan bahwa Islam tidak menafikan kebutuhan tersebut karena tanpa keduanya manusia akan punah. Namun, tanpa kendali akal dan agama, manusia akan jatuh ke derajat binatang.
Di sinilah, menurut Buya Hamka, puasa hadir sebagai solusi praktis. Dia mengungkapkan bahwa puasa sebagai “kendali” yang melatih manusia selama satu bulan penuh untuk menguasai dua syahwat tersebut. “Jika terhadap nasi yang halal dan istri yang sah saja kita mampu menahan diri karena perintah Allah, maka seharusnya kita jauh lebih mampu untuk berhenti dari barang yang haram dan perbuatan maksiat,” kata Buya Hamka, ketua umum pertama Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Bagi Buya Hamka, puasa adalah proses “pendidikan budi” untuk menaklukkan hawa nafsu agar manusia kembali ke fitrah akalnya yang murni. Latihan selama sebulan ini adalah cara Tuhan membentuk pribadi yang bertakwa (la’allakum tattaqun), sebagaimana tertuang dalam Al-Baqarah ayat 183.
Melalui tulisannya itu, Buya Hamka ingin menyampaikan bahwa puasa adalah cara manusia membuktikan martabatnya di atas insting hewani, demi menciptakan tatanan dunia yang lebih manusiawi dan beradab.
Sumber:Majalah Panji Masyarakat, 1 Agustus 1998
