Tidak semua orang memperoleh rezeki dalam ukuran yang sama. Ada yang hidup dalam kelapangan, ada pula yang harus berjuang setiap hari demi memenuhi kebutuhan dasar. Namun dalam pandangan Islam, kemuliaan manusia tidak pernah diukur dari tebalnya dompet atau megahnya rumah, melainkan dari ketakwaan dan kemampuannya menjaga kehormatan diri.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala menggambarkan sosok yang mulia ini dalam firman-Nya: (Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terhalang (usahanya) di jalan Allah; mereka tidak dapat berusaha di bumi. Orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena mereka menjaga diri dari meminta-minta. Engkau mengenal mereka dari ciri-cirinya; mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak…”(Q. S. Al-Baqarah: 273).
Ayat ini menghadirkan potret yang sangat menyentuh. Ada orang-orang yang hidup dalam kekurangan, bahkan mungkin menahan lapar, tetapi mereka tetap menjaga martabatnya. Mereka tidak menjadikan kemiskinan sebagai alasan untuk kehilangan harga diri. Justru karena sikap ta’affuf—menahan diri dari meminta-minta—orang lain mengira mereka hidup berkecukupan.
Dalam khazanah Islam, sikap ini dikenal dengan istilah ‘iffah, yaitu menjaga kehormatan dan kesucian diri dari perbuatan yang merendahkan martabat. ‘Iffah bukan berarti menolak bantuan atau berpura-pura mampu. Sebaliknya, ia adalah kekuatan jiwa yang membuat seseorang tetap berusaha, bersabar, dan bertawakal kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala tanpa menjadikan tangan selalu terulur kepada sesama manusia.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam juga memberikan teladan yang sangat kuat tentang pentingnya menjaga kehormatan diri. Beliau bersabda:”Barang siapa menjaga diri dari meminta-minta, maka Allah akan menjaganya. Barang siapa merasa cukup, maka Allah akan memberikan kecukupan kepadanya.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim). Hadis ini tidak mengajarkan kesombongan, melainkan membangun mental tangguh. Seorang muslim didorong untuk bekerja, berikhtiar, dan memanfaatkan kemampuan yang dimilikinya sebelum bergantung kepada orang lain.
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa meminta-minta tanpa kebutuhan yang mendesak merupakan perbuatan yang tercela karena dapat mengurangi kehormatan seorang mukmin. Sebaliknya, apabila seseorang benar-benar berada dalam kondisi darurat dan tidak memiliki jalan lain, maka meminta bantuan diperbolehkan bahkan dapat menjadi kebutuhan yang dibenarkan oleh syariat. Dengan demikian, Islam tidak melarang meminta pertolongan, tetapi mengatur adab dan batasannya.
Di tengah kehidupan modern, nilai ‘iffah justru menjadi semakin relevan. Kemudahan media sosial membuat sebagian orang terbiasa mengumbar kesulitan hidup kepada publik demi memperoleh simpati. Tidak sedikit pula yang menjadikan belas kasihan sebagai sumber penghasilan. Padahal Islam membangun masyarakat yang kuat, mandiri, dan bermartabat.
Sebaliknya, ada orang-orang yang tetap bekerja apa adanya, menahan kesulitan tanpa banyak mengeluh, dan menjaga harga dirinya dengan penuh kesabaran. Mereka mungkin berada sangat dekat dengan kita—tetangga, kerabat, atau sahabat—tetapi penderitaan mereka tidak terlihat karena mereka memilih diam.
Di sinilah pesan penting QS. Al-Baqarah ayat 273 bagi masyarakat. Ayat ini bukan hanya memuji orang yang menjaga kehormatan diri, tetapi juga mendidik orang-orang yang berkecukupan agar lebih peka. Tidak semua orang miskin datang mengetuk pintu. Tidak semua yang membutuhkan berani mengangkat tangan. Ada yang tetap tersenyum meski dapurnya sudah lama tidak mengepul.
Karena itu, kepedulian sosial dalam Islam tidak cukup hanya menunggu permintaan. Kepekaan membaca keadaan sekitar merupakan bagian dari akhlak seorang mukmin. Zakat, infak, sedekah, dan berbagai bentuk bantuan sosial sejatinya diarahkan kepada mereka yang membutuhkan, termasuk mereka yang memilih diam demi menjaga martabatnya.
Kemiskinan memang dapat mengurangi kenyamanan hidup, tetapi tidak boleh menghilangkan kehormatan seseorang. Sebaliknya, kekayaan dapat mempermudah kehidupan, tetapi tidak otomatis menghadirkan kemuliaan. Kemuliaan sejati lahir dari hati yang bertakwa, jiwa yang menjaga harga diri, dan tangan yang ringan membantu tanpa menunggu diminta.
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mampu menjaga kehormatan diri ketika diuji dengan kekurangan, sekaligus mengaruniakan kepada kita hati yang peka untuk menemukan mereka yang membutuhkan sebelum mereka terpaksa meminta.
Wallahu a’lam bish-shawab…
Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten
Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

