Di tengah kehidupan modern saat ini, rokok telah menjadi sesuatu yang begitu akrab di masyarakat. Ada yang menganggapnya teman saat bekerja, pengusir penat, bahkan simbol pergaulan. Namun di balik kepulan asap itu, muncul pertanyaan penting: apakah sesuatu yang membahayakan tubuh dan mengganggu orang lain pantas dipelihara oleh seorang muslim yang ingin menjaga kesucian lahir dan batinnya?
Dalam tradisi ulama salaf, persoalan rokok bukan sekadar soal hukum halal atau haram semata, melainkan juga menyangkut adab, kebersihan jiwa, dan kecintaan kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam. Salah satu kisah yang sering disampaikan di majelis-majelis ilmu adalah pengalaman spiritual Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi, pengarang Maulid Simtud Durar.
Dikisahkan bahwa beliau pernah menyaksikan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam menunjukkan ketidaksukaan terhadap asap tembakau. Ada riwayat yang menyebut Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam memalingkan wajah dari bau dan asap tersebut. Terlepas dari bagaimana tingkat kekuatan riwayat itu diperdebatkan, kisah ini menyimpan pesan moral yang sangat mendalam: seorang pecinta Nabi tentu akan berusaha menjauhi apa saja yang tidak disukai oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam.
Habib Ali al-Habsyi dikenal sebagai ulama besar yang hatinya dipenuhi cinta kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam. Kehidupan beliau dipenuhi zikir, shalawat, dan dakwah kelembutan. Maka ketika seorang wali Allah memberi isyarat agar umat berhati-hati terhadap tembakau, tentu hal itu bukan semata persoalan duniawi, tetapi juga persoalan kebersihan ruhani.
Pandangan serupa juga ditemukan pada banyak ulama dan habaib terdahulu. Di Hadramaut, misalnya, terdapat kisah Habib Husin bin Syekh Abu Bakar bin Salim yang memerintahkan agar tembakau dibuang dan dibakar karena ketidaksukaannya terhadap benda tersebut. Sikap tegas seperti ini lahir dari kesadaran bahwa Islam mengajarkan penjagaan terhadap tubuh sebagai amanah dari Allah Subhanahu Wa’Ta’ala.
Al-Qur’an mengingatkan:
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”
(QS. Al-Baqarah: 195)
Ayat ini menjadi dasar penting bahwa seorang muslim diperintahkan menjaga kesehatan dan menghindari hal-hal yang membawa mudharat. Dalam konteks sekarang, dampak buruk rokok terhadap kesehatan sudah sangat jelas. Penyakit paru-paru, jantung, hingga gangguan pernapasan menjadi ancaman nyata, bukan hanya bagi perokok tetapi juga orang-orang di sekitarnya.
Ironisnya, banyak orang sebenarnya sadar akan bahaya rokok, tetapi sulit melepaskannya karena sudah menjadi kebiasaan dan ketergantungan. Di sinilah pentingnya pendekatan hati, bukan sekadar celaan. Islam tidak datang untuk menghukum manusia, tetapi membimbingnya menuju kebaikan sedikit demi sedikit.
Meninggalkan rokok bukan hanya soal hidup lebih sehat, melainkan juga latihan mengendalikan hawa nafsu. Ketika seseorang mampu menahan keinginan yang merugikan dirinya, sesungguhnya ia sedang belajar memperkuat iman dan kedisiplinan diri.
Lebih dari itu, menjaga mulut dan tubuh dari bau yang tidak sedap juga termasuk bentuk penghormatan terhadap ibadah dan majelis ilmu. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bahkan pernah menegur orang yang memakan bawang mentah agar tidak mendekati masjid karena aromanya mengganggu. Jika bau bawang saja diperhatikan, maka asap rokok yang jauh lebih menyengat tentu layak menjadi renungan bersama.
Pada akhirnya, kisah Habib Ali al-Habsyi bukanlah sekadar cerita karamah ulama, tetapi undangan untuk bercermin. Seberapa besar cinta kita kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam? Apakah cinta itu hanya di lisan melalui shalawat, atau juga diwujudkan dengan usaha meninggalkan hal-hal yang tidak beliau sukai?
Menjadi muslim yang baik bukan berarti harus langsung sempurna. Namun setidaknya, kita memiliki keinginan untuk terus memperbaiki diri. Dan mungkin, salah satu langkah kecil menuju hidup yang lebih bersih, sehat, dan bercahaya dimulai dari keberanian untuk berkata: “Saya ingin berhenti.”***
Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten
Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

