Pada tahun-tahun pertama kenabiannya, Rasulullah Saw, sering menerima kunjungan para pemimpin kabilah atau suku. Antara lain, suatu kali, dari para pemuka Quraisy. Mereka adalah Utbah ibn Rabii’ah, Abu Jahal ibn Hisyam, Abbas ibn Abdil Muthalib, Umaiyah ibn Khalaf, dan Al-Walid ibn Al-Mughirah. Pada kesempatan itu, Nabi mengajak mereka masuk Islam. Dengan harapan para dedengkot Makkah itu akan diikuti kaum mereka jika masuk Islam.
Sebagian besar pemimpin Quraisy toh tidak bersedia masuk Islam. Bahkan berbalik memusuhi Nabi. Sampai-sampai beliau berhijrah ke Madinah. Mereka baru bergabung di saat-saat terakhir, the last minutes, setelah Makkah ditaklukkan. Dan, dalam kenyataan, tidak ada pilihan lain – meskipun Nabi melarang menghakimi isi hati orang
Sejak awal, para pemuka Makkah itu sudah mengkhawatirkan dakwah Nabi akan menggoyahkan kedudukan mereka yang mapan. Sementara, di sisi lain, Nabi berpikir bahwa bergabungnya mereka ke dalam Islam akan menyebabkan para pengikut tokoh-tokoh itu berduyun-duyun mengikuti langkah mereka. Tapi sunnah Allah menentukan lain. Dan sunnah Allah selalu mewujud dalam kenyataan.
Itu bukan eksklusif pengalaman Muhammmad Saw, seruan-seruan para rasul yang lain, seperti Nuh, Ibrahim, Musa, Isa – semoga salam tercurah bagi mereka – juga memperoleh tantangan hebat. Dan itu dari kaum established alias kelompok mapan. Tidak mengherankan jika para pengikut dan terutama dari para nabi, tak lain orang-orang yang lemah, orang tidak terkenal, mereka yang gembel, dan budak-budak.

