Ramadan bulan yang penuh berkah, rahmah (kasih sayang) dan maghfirah (pengampunan). Di bulan suci ini kita berpuasa selama sebulan penuh: menahan lapar dan haus, serta pantang melakukan hubungan suami istri – sepanjang hari, sampai tiba waktu berbuka. Sedang di malam hari, kita disunahkan salat tarawih, selain memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, dan i’tikaf.
Kita tempuh semua itu, agar kita mencapai status yang diharapkan Allah SWT. Yakni menjadi orang yang bertakwa. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang -orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. 2:183).
Orang bertakwa sering digambarkan sebagai orang yang punya rasa takut akan siksa Allah dan berusaha memelihara dirinya dari perbuatan dosa. Seseorang yang tidak taut dosa, dengan demikian, tidak bisa disebut orang yang bertakwa. Pelahiran atau manifestasi dari takwa adalah berusaha menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Ayat yang kita kutip di atas merupakan ayat pertama dari tujuh rangkaian ayat tentang puasa yang termaktub dalam surat Al-Baqarah itu. Dari susunan ayat-ayat puasa itu, satu di antaranya merupakan tujuan puasa, selain takwa tadi. Yaitu ayat 186: “Dan apabila bertanya hamba-Ku kepadamu (Muhammad) tentang hal-Ku, maka sungguh Aku itu dekat. Akan Aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila dia memohon sesuatu kepada-Ku. Oleh karena itu, hendaklah menyambut seruan-Ku dan percaya kepada-Ku. Mudah-mudahan mereka akanmendaapat jalan yang benar.”
Seperti dikemukakan Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, kalau kita renungkan rangkaian tujuh ayat tentang puasa itu, maka ayat 186 itulah yang tampaknya menjadi tujuan puasa. Kata Buya, setiap hari kita dianjurkan untuk berbuat baik, tetapi selama bulan Ramadanlah kita diperintah mengerjakan amalan lebih ketat, dan menghentikan makan dan minum di siang hari. Ahli-ahli ilmu jiwa, kata Buya pula, mengatakan bahwa kosongnya perut dari makanan dan minuman menjadikan jiwa lebih ringan buat mendekati Tuhan. “Dan dengan tegas Allah mengatakan dalam ayat itu, jika hamba-Nya bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang Tuhan, disuruhlah beliau menjelaskan bahwa di waktu itu Tuhan lebih dekat dan Tuhan berjanji akan mengabulkan doa seseorang apabila dia betul-betul memohon kepada-Nya. Dengan syarat, hendaklah yang bersangkutan siap selalu melaksanakan apa pun yang diperintahkan oleh Allah.” Dan tentunya menjauhi segala yang Dia larang.
Jadi, marilah kita sambut bulan yang mulia ini dengan mendekatkan diri kepada Allah. Bukan dengan hura-hura dan segala hiruk pikuk di dalamnya, serta perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat.

